Minggu, 23 Mei 2010

TUGAS KA ADAWIYAH

AISYAH BINTU ABU BAKR BELAHAN JIWA RASULULLAH

Dia adalah pengajar kaum laki-laki. Wanita yang jujur, putri seorang lelaki yang jujur. Dia adalah Ummul Mukminin isteri sayyid anak Adam. Dia adalah wanita yang paling dicintai oleh Rasulallah dan putri dari seorang lelaki yang paling dicintai oleh beliau. Dia adalah wanita yang namanya dibersihkan dari tujuh lapis langit. Dialah ‘Aisyah bintu Abi Bakr ‘Abdillah bin Abi Quhafah ‘Utsman bin ‘Amir bin ‘Amr bin Ka’b bin Sa’d bin Taim bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ay al-Qurasyiyyah at-Taimiyyah al-Makkiyyah. Dia seorang wanita yang cantik dan berkulit putih sehingga mendapat sebutan al-Humaira’. Ibunya bernama Ummu Ruman bintu ‘Amir bin ‘Uwaimir bin ‘Abdi Syams bin ‘Attab bin Udzainah al-Kinaniyyah. Dia lahir ketika cahaya Islam telah memancar, sekitar delapan tahun sebelum hijrah. Dihabiskan masa, seorang kanak-kanaknya dalam asuhan sang ayah, kekasih Rasulullah, seorang sahabat yang mulia, Abu Bakr ash-Shiddiq.

Pernikahan Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ‘Aisyah merupakan perintah dari Allah setelah Khadijah ra wafat. Usianya baru menginjak enam tahun saat Rasulullah akad pernikahan dengannya. Wanita mulia yang diperlihatkan oleh Allah dalam wahyu berupa mimpi untuk memberitakan bahwa kepada Rasulullah dia kelak akan menjadi istri beliau. Seorang wanita yang mulia, sabar bersama Rasulullah ditengah kefakiran dan rasa lapar, hingga terkadang hari-hari yang panjang berlalu tanpa nyala api untuk memasak makanan apa pun. Yang ada hanyalah kurma dan air. Dia adalah isteri terbaik yang selalu memiliki perhatian terhadap penerimaan ilmu dari Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga keilmuan dan sastra Arabnya telah menjadikannya sebagai guru bagi kaum laki-laki dan menjadi sumber pengambilan ilmu hadits, sunnah, dan fikih bagi mereka. Az Zuhry berkata : “Kalau ilmu ‘Aisyah dikumpulkan dengan ilmu seluruh wanita, tentu ilmu ‘Aisyah lebih utama”

Seorang istri yang menyenangkan suaminya yang mulia, menggiring kegembiraan ke dalam hatinya, menghilangkan segala kepayahan dalam menjalani kehidupan dakwah untuk menyeru manusia kepada Allah.

Sepeninggal Rasulullah saw ‘Aisyah menyebarkan ilmu yang dia dapatkan dalam rumah tangga nubuwah. Riwayatnya banyak diambil oleh para sahabat yang lain dan tercatat dalam kitab-kitab. Dia menjadi seorang pengajar bagi seluruh kaum muslimin. Keutamaan dari sisi Allah banyak dimilikinya, hingga Rasulullah menyatakan, “Keutamaan ‘Aisyah atas seluruh wanita bagaikan keutamaan tsarid atas seluruh makanan.” Bahkan Jibril menyampaikan salam padanya melalui Rasulullah.

Tiba waktunya ‘Aisyah kembali kepada Rabb-Nya. Wanita mulia ini wafat pada tahun 57 Hijriah dan dikuburkan di pekuburan Baqi’. Ilmunya, kisah hidupnya, keharumannya namanya tak pernah sirna dari goresan tinta para penuntut ilmu dan dunia tidak mengenal wanita semisalnya samapai empat belas abad kemudian. Semoga Allah meridhainya.



ka adaw commentnya nyusul ya :)